Ketika Comic Main Sulap, Kok Lebih Bagus dari Pesulap?

gideon tulus

Sulap.info – Gideon Tulus, salah satu peserta SUCI IX Kompas TV, baru-baru ini menunjukkan keahliannya bermain sulap di channel YouTube milik Raditya Dika.

Sebagai penonton dan penikmat sulap, jujur saya terkejut melihat Tulus bisa bermain sulap dengan sangat baik. Bahkan saya yakin dia lebih baik dari kebanyakan pesulap sungguhan.

Kenapa demikian?

Sebelum mencari tahu alasannya, mari kita bahas dulu permainan apa yang ia mainkan untuk Raditya Dika.

Gideon Tulus Jago Main Sulap Kartu

Tulus bermain sulap dengan satu pak kartu remi, dan yang dia pakai adalah Bicycle Playing Cards. Dari sini saja sudah menunjukkan Tulus sepertinya lumayan serius belajar sulap.

Dari sisi permainan, bisa dibilang Tulus cuma memainkan trik level pemula dalam sulap kartu.  Secara skill dan handling pun mungkin dia tidak sebaik pesulap sungguhan. Minimal dia bisa melakukan riffle shuffle dan spread dengan baik.

Tapi yang membuat saya kagum adalah, dengan permainan sesederhana itu Tulus berhasil menghibur seisi ruangan. Bahkan saya yang cuma sekadar nonton dari layar laptop pun ikut terhibur meskipun, ehem… ya sudah tahu rahasianya.

Jadi, apa kunci Tulus bisa main sulap dengan sangat baik? Sebelumnya coba tonton dulu video Tulus selengkapnya. 

Menaruh Premis Sebagai Motivasi Permainan

Saya curiga dia menulis skrip dan menyusun rutin tersebut, meskipun secara pertunjukan kelihatannya cuma sebatas bercanda. Namun di balik kesederhanaan itu pasti ada keseriusan.

Tulus memainkan empat trik dan membaginya dalam empat bagian. Setiap bagian punya premis masing-masing yang terasa mengalir dari awal sampai akhir. Efek permainannya pun punya eskalasi, semakin naik sampai gongnya pada trik terakhir.

Pertama, kata tulus, dia memainkan trik untuk kenalan dengan orang. Kemudian dilanjutkan dengan trik untuk basa-basi, lalu trik ketika sudah mulai akrab dan berakhir pada trik penutup yang sempurna.

Menurut saya, Tulus menerapkan ilmu stand-up-nya untuk membuat rutin sulap. Premisnya jelas, tidak terlalu mengada-ngada dan ada komedinya. Susunan triknya pun rapi sehingga membuat rutin ini terlihat seperti set stand-up comedy yang utuh.

Menulis Sebuah Pertunjukan Sulap

Kunci dari kesuksesan permainan Tulus adalah menulis, alih-alih sebatas menampilkan triknya secara mentah. Secara khusus saya senang melihat trik terakhir yang bagus banget.

Nah, kebiasaan menulis ini yang jarang tertanam di pesulap sungguhan. Tidak semuanya sih, tapi BANYAK. 

Biasanya pesulap cuma fokus pada pendekatan efek visual dan menunjukkan skill dengan jemarinya. Seolah-olah mau bilang, “Ini lho saya bisa berakrobat dengan kartu dan memainkan trik yang sulit.” Terkesan asal main dan tidak ada tujuannya.

Apakah salah? Tergantung kita menilainya dari sudut pandang mana.

Tapi kalau bisanya cuma begitu doang, ya kurang bagus juga. Apalagi kebiasaan asal main ini terbawa ketika bermain sulap di depan orang, bukan sekadar di depan kamera. 

Reaksi penonton biasanya akan menjawab apakah cara kamu menyajikan sebuah trik sulap sudah baik atau belum. Kalau reaksi penonton biasa saja, jangan langsung menuding penontonnya nggak asyik. Bisa jadi kamu memang tidak menghibur.

Jangan kepedean menghakimi penonton yang tidak tahu apa-apa, lagi enak-enak nongkrong bareng teman, eh tiba-tiba ditodong untuk nonton sulap.

Gideon Tulus Meninggalkan Kesan yang Tulus

Dari video permainan Gideon Tulus, kamu mungkin tidak sadar bahwa temannya, si Ical Kate, juga sering nyerocos seolah-olah dia sudah tahu Tulus mau ngapain lagi setelah ini. 

Apakah ini sudah settingan?

Tidak dong. Kemungkinan Ical memang sudah pernah menonton Tulus main sulap sebelumnya. Saking bagusnya dari sisi premis dan efek, Ical sampai ingat betul apa yang Tulus mainkan. 

Itu artinya Tulus bukan cuma sukses menyampaikan triknya dengan baik, tapi juga meninggalkan kesan di benak penontonnya.

Apakah kamu pernah main sulap dengan seseorang lalu saat bertemu dengan orang yang sama di waktu yang lain dia masih ingat dengan permainanmu dulu?

Kalau belum pernah, berarti kamu harus coba perbaiki lagi penampilanmu. Coba tulis dan buat lagi rutin yang bukan cuma sekadar asal main. Jangan beli tutorial atau gimmick lalu memainkannya mentah-mentah.

Beli tempe di pasar saja masih harus diolah dulu supaya rasanya enak dalam bentuk gorengan, tempe orek atau bacem. 

Ngomong-ngomong soal tempe, Yuk, jangan mau kalah sama orang yang bukan pesulap tapi malah bisa membawakan sulap dengan lebih baik. Boleh kok mengasah skill, tapi jangan lupa juga untuk menulis karena ini adalah bagian yang tidak bisa lepas dari sulap. 

Tidak perlu memiliki keahlian menulis tingkat tinggi. Kalau kata Raditya Dika sih yang penting jujur dan dekat. Barangkali hal-hal sepele di sekitar kita sebenarnya bisa jadi premis untuk main sulap dan lebih berkesan, seperti yang Tulus bawakan dengan tulus. (bds.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *