Jejak yang Belum Terhapus: Komunitas Sulap Lawas di Semarang

komunitas sulap

Sulap.info – Semarang merupakan salah satu kota yang cukup unik, baik dari letak geografisnya maupun latar belakang budayanya. Di kota inilah, pernah terbentuk sebuah komunitas sulap yang cukup eksis pada zamannya. Komunitas tersebut bernama Aneka Gaya.

Info Sulap mendapati fakta itu dari seorang kolektor sulap asal Surabaya, Paulus Sentana. Dia membagikan foto kakeknya, yang seorang pesulap, di sebuah grup WhatsApp. Di belakang orang yang ada dalam foto lawas itu, terlihat logo sebuah klub sulap yang ternyata berbasis di Semarang. Penasaran, kami pun mengulik lebih dalam lagi dari Paulus dan seorang mantan anggota komunitas.

Berdirinya Komunitas Sulap Aneka Gaya

komunitas sulap

Dari informasi yang didapat, komunitas ini sudah terbentuk bahkan sejak sebelum tahun 1965. Itu cukup menggambarkan bahwa selain di Jakarta, sulap juga tumbuh dan berkembang di Semarang pada waktu itu. Aneka Gaya diketuai oleh Hardjo Pranoto (Tjiam Tjhie Tjhiang), seorang pengusaha batik di kota Semarang. 

Dengan kemampuannya bermain sulap, sekaligus punya ‘modal’ yang cukup, Hardjo Pranoto membentuk komunitas ini dengan beranggotakan beberapa pesulap asal Semarang. Bisa dikatakan bahwa Hardjo Pranoto merupakan guru sulap di Semarang, mengingat bahwa pada zaman itu tidak semua orang mampu untuk mengakses informasi dan alat sulap. Ia mengajari beberapa pesulap Semarang sampai bisa dan berani tampil di panggung-panggung.

Komunitas ini seringkali mengadakan pertunjukan sulap, tidak hanya di Semarang tetapi juga beberapa kali menggelar acara di kota lain, Pekalongan misalnya. Pada zaman itu, untuk mengadakan pertunjukan sulap memang tidak semudah sekarang. Butuh pengorbanan dan dedikasi yang tinggi. Hardjo Pranoto bahkan pernah mengadakan pertunjukan di kota lain dengan modal sendiri, karena uang penjualan tiket ia gunakan untuk keperluan sosial.

Cerita dari Mantan Anggota Komunitas

Salah satu murid Hardjo Pranoto adalah Dr. Harry Prayogo. Sekarang ia merupakan salah satu pesulap senior di kota Semarang. Harry mengatakan bahwa Hardjo Pranoto adalah pribadi yang kreatif, karena dia membuat alat-alat sulapnya sendiri. Itu semata-mata dilakukan karena pada waktu itu akses membeli alat sulap dari Jakarta ataupun luar negeri cukup sulit dan biayanya sangat mahal.

“Dia kreatif, (alatnya) bikin sendiri dan punya tukang khusus. Juga selalu bikin backdrop sendiri. Dia kan pengusaha batik, jadi mudah banget dapat kain-kain lebar,” kata Harry saat kami tanya tentang sosok Hardjo Pranoto.

Harry sendiri bergabung dengan komunitas Aneka Gaya sejak duduk di bangku SMA. Selama kurang lebih lima tahun, dia mendalami sulap dengan dimentori langsung founder komunitas itu sendiri.

“Beliau saat itu punya beberapa (anggota) magician. Saya paling kecil, dan diajari sendiri oleh beliau,” tambahnya.

Dia menceritakan betapa sulitnya saat itu untuk belajar sulap langsung dari Hardjo Pranoto. Dibutuhkan perjuangan yang cukup melelahkan karena harus naik sepeda  menuju kediaman Hardjo Pranoto di jalan Imam Bonjol, Semarang. Cukup jauh katanya, dan sampai di sana hanya diajari satu atau dua trik saja. Terkadang tidak diajari sama sekali karena beliau sedang sibuk.

Aneka Gaya Sudah Tidak Bergaya Lagi

Setelah lima tahun bergabung dengan kelompok pesulap Semarang itu, Harry Prayogo memutuskan untuk menarik diri. Alasannya karena dia harus melanjutkan studinya di Jakarta. Menurut penuturannya, komunitas Aneka Gaya kemudian bubar karena anggotanya yang juga sudah menua.

Masih banyak hal yang belum terungkap mengenai perjalanan Aneka Gaya sampai namanya hilang bagai ditelan bumi. Seperti fakta tentang apakah Aneka Gaya adalah komunitas sulap pertama di Semarang atau bukan. 

Kini Aneka Gaya sudah tidak lagi bergaya, tetapi perjuangannya kini dilanjutkan oleh anak-anak muda kreatif Semarang. Salah satunya melalui Semarang Magic Community (SMC) dan beberapa komunitas sulap lain yang masih aktif di Kota Lumpia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *