Mustahil (?) Membuat Sulap Bernilai ‘Mahal’ Lagi di Indonesia

Sulap.info – Belakangan saya sering membaca keluh kesah pesulap tentang semakin maraknya video bongkar trik sulap terutama di platform YouTube. Mereka resah karena video berlabel tutorial itu dibuat oleh orang-orang yang kurang kredibel di bidangnya. Alhasil, bukannya menumbuhkan kecintaan terhadap seni sulap, tetapi malah bisa jadi menambah buruk citra sulap. Padahal, sulap harusnya bernilai ‘mahal’ dan tidak semudah itu diumbar-umbar rahasianya kepada publik.

Boleh Bongkar Trik Sulap?

Sebenarnya ada trik-trik sederhana, dan itu jumlahnya banyak, yang tidak mengapa dibuka ke publik. Harapannya, setelah mengetahui trik sederhana itu orang awam bisa tertarik mempelajari sulap lebih jauh. 

Kamu mungkin pernah membeli buku sulap di toko buku umum, tapi isi triknya itu-itu saja. Tidak ada bedanya trik di buku satu dengan lainnya. Tentu itu karena yang diajarkan hanyalah trik-trik sederhana sebagai perkenalan orang awam dengan sulap. Jika ingin mempelajari lebih dalam, mereka bisa membaca buku sulap di toko-toko sulap yang biasanya isinya jauh lebih spesifik dan mendalam. 

Sementara trik-trik yang berasal dari karya orang, apalagi masih dijual di pasaran, tentu seharusnya tidak dibongkar seenak jidat. Beberapa hari lalu saya melihat seseorang membagikan tautan video YouTube yang isinya adalah video dari Dan & Dave. Kalau mau mbajak produk, mbok ya yang ada etikanya sedikit. Kok main upload dan dibagikan gratis, lebih murah dari sebungkus permen.

Sulap Itu Mahal, Bos!

Ngomong-ngomong soal ‘mahal’, sebenarnya kasus maraknya bongkar-bongkar sulap diakibatkan oleh kebiasaan orang Indonesia sendiri. Jangan salahkan orang lain kalau masalahnya berakar dari diri kita. Secara spesifik, saya menyoroti beberapa kalangan pesulap dan penggemar trik sulap (bukan SENI sulap). Sulap sudah tidak lagi mahal dan semakin lama nilainya semakin murah. Tentu kita bicara tentang nominal, di mana sebuah trik sulap dihargai sangat murah di pasaran.

Beberapa waktu lalu Demian membuat video bersama para mantan anggota kelompok Pentagram di saluran YouTube-nya. Demian menyoroti tentang perubahan pola belajar pesulap dulu dan sekarang. Kemudian Deddy Corbuzier mengamini bahwa pola itu sudah berubah, namun penekanannya adalah pada aksesnya. Kemudahan akses sudah membuat sulap sudah jadi ‘barang murah’. Salah satu penyebabnya tentu adalah perkembangan internet.

“Yang benar-benar menghancurkan (seni sulap) adalah internet. Dulu, kalau mau beli buku itu harus ngumpulin uang berapa, VHS pun harganya berapa,” kata Deddy Corbuzier.

“Jadi yang menghancurkan bukan karena perilaku atau cara mengajarnya, tapi begitu mudahnya orang mendapatkan alat sulap dengan murah, di-copy dan dibajak. Kalau dari situ sudah murah, seninya jadi murah.”

Yang Penting Murah Meriah

Bayangkan, seorang kreator menciptakan sebuah efek dengan proses pengembangan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dia dan labelnya lalu merilis itu ke pasar dengan harga $30 (misalnya). Tak sampai sebulan, ada orang yang menjual gimmick dan tutorialnya (paket komplit) dengan harga Rp30.000 saja.

Begitu murahnya harga sebuah trik sulap, sehingga seseorang tidak perlu khawatir ketika dia membongkar rahasianya di internet. Toh, untuk membongkar trik selanjutnya dia hanya perlu merogoh kocek tak sampai Rp50.000. (Sebagian) orang yang gembar-gembor soal haramnya bongkar sulap di YouTube pun pasti pernah membeli produk yang murah meriah seperti itu. Supaya lebih mudah, mari kita sebut itu sebagai produk bajakan.

Saya pernah menuliskan opini tentang produk sulap bajakan yang sudah menjadi lazim di Indonesia. Ironisnya, beberapa orang tidak menyadari bahwa produk yang mereka beli adalah bajakan. Apa-apa yang terbuat dari kartu Bicycle dianggapnya asli dari luar negeri. Padahal itu buah tangan dari si penjual sendiri, bukan dari produsennya di luar negeri.

Membeli produk sulap bajakan sudah menjadi gaya hidup. No bajakan, no life! Itu telah menjadi candu, karena harganya murah. Sekali pernah beli dan kualitasnya bagus, maka besok dan besoknya lagi pasti dia akan beli. 

Mustahil Tanpa Dukungan dan Kesadaran

Toko sulap pasti punya dalih sendiri dan tidak mau dipersalahkan atas hal ini. Toh, ini juga ‘karya’ sendiri karena buatan tangan sendiri dan dijual kepada pesulap untuk ‘memajukan’ sulap. Saya tidak mau mengomentari itu karena kita semua tahu sama tahu. Tapi, menurut saya banyak pesulap yang bersikap naif untuk mengakui bahwa dia menggunakan produk bajakan. Yang ingin ditonjolkan hanyalah hasilnya, yaitu berupa efek untuk dipamerkan lewat media sosial.

Sampai sini, muncul pertanyaan, “Apakah sulap bisa jadi bernilai mahal lagi di mata masyarakat Indonesia?” Jawabannya hanya satu kata, mustahil. Saya tidak akan bicara soal pesulap-pesulap top seperti Demian atau Riana misalnya. Bahkan mereka sekalipun terkadang menjadi korban kesan murah sulap dari masyarakat dengan banyaknya komentar dan video bongkar trik permainan mereka di internet. 

Ini adalah tentang kita, pesulap-pesulap yang masih di bawah. Termasuk para penggemar trik sulap dan pemburu video bongkar sulap di YouTube. Kita masih punya mindset, “Kalau mau belajar sulap harus beli yang ori itu kemahalan, enggak mampu beli. Mending beli yang murah dan dapat banyak.”

Maaf, sulap pada hakikatnya seharusnya memang mahal. Kita sendiri yang sudah mengubah mindset tersebut sehingga merasa harus mendapatkan rahasia sulap dengan harga semurah-murahnya. Kalau mahal sedikit, pasti akan cari toko lain yang menjualnya lebih murah. Bayangkan, antar produk bajakan saja pasti ada perang harga. 

Mirisnya ada penjual yang mengaku tidak tahu menahu soal ‘membajak’ karena menurutnya dia hanya membuat sendiri sebuah gimmick yang sama dengan produk aslinya. Hmmm… coba kamu nilai sendiri apakah itu namanya membajak atau mencangkul?

Sekitar dua tahun lalu, teman sekaligus senior saya, Doctor Frenos, pernah menjual sebuah gimmick eksklusif yang harganya jutaan. Permainan ini dimainkan oleh Deddy Corbuzier di pertunjukan seremonialnya di salah satu stasiun TV. Tak lama kemudian, muncul produk tiruannya di pasaran. Harganya tidak sampai jutaan, cuma beberapa ratus ribu saja. Punya teman sendiri, lo, masa iya masih dibajak.

Mungkin itu alasan kebanyakan pesulap Indonesia memilih berkarya di platform luar negeri. Walaupun saya melihat beberapa dari mereka ada yang hanya mengedepankan kuantitas daripada kualitas. Info Sulap pernah menanyakan hal ini kepada Adrian Jibz Martinus (Jiban). Dalam cuplikan wawancara tersebut, dia mengatakan bahwa ini murni karena bisnis dan mereka (luar negeri) punya distribusi yang lebih baik. 

Luar negeri punya infrastruktur yang lebih baik dan industri yang lebih sehat. Kalau ditanya apakah Indonesia perlu punya platform atau produsen sulap sendiri, pasti perlu. Masalahnya dunia sulap Indonesia kecil dan harganya pasti mahal. Tapi, sulap memang seni yang mahal. Dan kalau ada temanmu yang merilis produk, belilah dengan harga penuh, bukan nunggu bajakannya keluar, cuk!

Jualan Bajakan Bertahun-tahun, Tapi Aman Kok

Hehehe. Iya, sih. Siapa yang bisa menyangkal, karena kita sendiri–pesulap Indonesia–yang sama-sama melindungi praktik tersebut. Pertanyaannya, kenapa tidak dikenai masalah hukum oleh pihak terkait? Percayalah, mereka sudah berusaha, tapi mereka lelah karena di era internet ini penyebaran produk bajakan tak bisa dihentikan.

Bahkan perusahaan sekelas Vanishing Inc. pernah mencoba menuntaskan pembajakan produk mereka di Tiongkok dengan membentuk badan hukum di sana. Pada akhirnya, mereka gagal karena si produsen produk bajakan malah membuat bungkus baru tanpa label Vanishing Inc. lagi. Alhasil, proses tracking pun jadi semakin sulit dan peredarannya masih terus berjalan.

Itu baru di Tiongkok, bagaimana dengan di Indonesia? Jangan tanya deh, di negara maju saja orang-orangnya kerepotan, apalagi di sini. PSBB saja dianggap bercanda oleh sebagian besar orang, apalagi soal hal yang masih abu-abu seperti hak cipta dan pembajakan di industri sulap.

Rick Lax, salah satu kreator sulap internasional, pernah membuat pos di situs web Wired tentang hak cipta. Sebelumnya dia menceritakan tentang pencurian idenya secara mentah-mentah oleh perusahaan asal Rusia pada 2012 lalu. Menurutnya, ini bukan hanya terjadi di ranah trik atau produk, melainkan juga rutin. Pesulap satu bisa mencuri rutin pesulap lainnya karena mereka bisa melakukannya.

David Copperfield menghabiskan bertahun-tahun mengembangkan ilusinya, kemudian banyak ilusionis di dunia mencuri permainannya sama persis. “Hukum Prancis melindungi seniman jauh lebih baik daripada hukum Amerika Serikat,” kata Copperfield. “Di Prancis, saya menuntut seseorang yang mencuri ilusi Terbang saya, dan saya berhasil. Gugatan mencegah dia dari melakukan lagi tanpa memberikan kompensasi kepada saya.”

Situ Paling Top, Saya Beng-Beng

“Saya sudah beli produknya, hak saya dong mau bikin gimmick-nya berapa banyak pun, lalu dijual lagi ke orang lain. Hak pembeli juga mau beli di mana.

Hmmm… Ya, memang hak Anda. Tapi tetap saja namanya bajakan. Kalau sudah tahu bajakan, mbok ya sebut saja bajakan tanpa ngeles ke sana kemari. Toh, semua pesulap dan sesama penjual juga tahu bahwa dengan harga yang murah tidak mungkin produk itu adalah asli. Tenang saja, menjual produk bajakan sudah mendapat permakluman dari masyarakat sulap yang budiman, dan harusnya penjual juga tidak perlu malu mengatakan produknya bajakan.

Tidak perlu ngeles dengan bilang ‘tidak ada aturan yang melarang kita menjual gimmick yang dibuat oleh kita sendiri.’ Tapi… tindakan menyalin dan mencuri itu ya bajakan. Bajakan, kalau produk yang dibajak didaftarkan hak cipta, maka artinya itu salah. Oke, maksudnya, saya yang salah. Situ paling top, saya Beng-Beng.

Terbayangkah kamu kalau hal ini lama kelamaan juga bisa menyebabkan tersendatnya inovasi baru dan kemajuan sulap. Malas lah orang berinovasi kalau akhir-akhirnya tidak dihargai. Bahkan ketika ada yang ngomong soal hak cipta, malah ditertawai. Jangankan di dunia, bahkan di Indonesia saja sulap pasti tidak akan maju. Sulap akan tetap murah selama mindset belum berubah. 

Tak Pernah Berujung

Mungkin ini sebabnya kenapa tidak pernah ada diskusi serius dari para ahli sulap mengenai hal ini, khususon di Indonesia. Semua orang sudah terlalu nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan salah itu. Panjang lebar, tapi sulit menemukan ujung dan solusinya. Jadi, mau di bawa ke mana? Terserah. #IndonesiaTerserah

One thought on “Mustahil (?) Membuat Sulap Bernilai ‘Mahal’ Lagi di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *