Sebuah Catatan: Oge Arthemus, Angkot Berhantu & Kesialan

oge arthemus

Sulap.info – “Anda pernah mendengar angkot berhantu? Ini adalah angkot berhantu tersebut. Yang konon kabarnya membawa kesialan sehingga pernah terjadi sebuah kejadian di mana angkot tersebut menabrak seseorang dan meninggal dunia. Dan semenjak itu, angkot ini selalu membawa kesialan,” kata Oge Arthemus.

“Namun, pada malam ini saya akan mencari tahu benarkah mitos tersebut? Dan tidak hanya itu…”

Kemudian Oge mempratikkan beberapa hal pamali seperti memecahkan kaca, menggunting kuku di malam hari, membawa jam mati, dan berjalan di bawah tangga. 

Itu adalah pembuka dari pertunjukan yang Oge Arthemus di acara Amazing Magician GTV. Dan kali ini saya ingin memberi sedikit komentar atas pertunjukan tersebut. 

Oge Arthemus & Angkot Berhantu

Yang pertama saya akan bahas terkait premis yang Oge Arthemus bawakan. 

Premisnya adalah soal angkot berhantu yang membawa kesialan. Dari premis ini, sebenarnya kita sudah dibingungkan, sebenarnya yang menjadi titik awal pertunjukan adalah soal “hantu”-nya atau “sial”-nya. 

Yang saya garis bawahi adalah kata “berhantu” dan “sial”, di mana pembuktian keduanya adalah hal yang berbeda.

Ketika menonton sampai bagian ini, saya masih meraba-raba akan ke mana arah pertunjukannya. Oh, ternyata lebih condong ke premis tentang kesialan. 

Oke, masih bisa diterima. Namun, Oge justru membuat adegan awal menjadi anti klimaks dengan mempraktikkan pamali-pamali seperti menggunting kuku pada malam hari, memecahkan kaca, dll. 

Maksudnya, hal-hal tersebut tidak lebih klimaks daripada cerita angkot berhantu di awal. Apakah tidak sebaiknya pamali yang kecil-kecil dulu itu berada di awal, baru setelah itu lanjut ke klimaks angkot berhantu. 

Tapi tentunya itu juga mesti dilakukan dengan sinkronisasi yang apik, dan saya yakin Oge dan tim sebenarnya bisa melakukan itu.

Aksi Meloloskan Diri Oge Arthemus

Setelah itu, Oge Arthemus mulai berbicara tentang teknis pertunjukannya. 

Singkatnya, dia terikat di dalam mobil angkot yang diangkat secara vertikal setinggi belasan meter, lalu harus meloloskan diri sebelum mobil tersebut jatuh karena suatu trigger.

Namun yang menjadi titik tekan Oge adalah pada kain hitam yang ia klaim bisa melindunginya. Oke, saya fokus pada premis kain hitam bisa melindunginya dari kesialan, yang katanya itu adalah jimat.

Pertunjukan pun berjalan sebagaimana mestinya. Efeknya berhasil dan secara keseluruhan itu adalah aksi meloloskan diri yang luar biasa. 

Setelah itu, Oge menyampaikan closing statement untuk mengakhiri aksinya. 

“Apabila Anda mempercayai sebuah benda akan membawa keberuntungan buat Anda, maka segenap pikiran dan tindakan Anda akan mencoba mewujudkannya. Namun, sesungguhnya bahwa keberuntungan itu atau kesialan itu kita sendiri yang membuatnya.”

Apakah sesuai dengan premis awal? Jawabannya sangat sesuai. Tapi ada beberapa catatan mendasar yang sedikit mengganjal buat saya.

Oge lupa bahwa pamali-pamali yang beredar di masyarakat bukan tanpa tujuan. Seharusnya, Oge menjelaskan lebih jauh bahwa poinnya bukan hanya sakadar, “Jangan percaya benda/jimat” tetapi lebih dalam dari itu. 

Mengapa kita tidak boleh menggunting kuku di malam hari, ada penjelasannya kok, pun dengan pamali-pamali yang lain. Ini merupakan kearifan lokal di Indonesia dan makna-makna yang ada di balik pamali itulah yang seharusnya menjadi pesan utama. 

Dengan begitu, Oge akan tampak lebih arif dan bijaksana sehingga apa yang tersampaikan akan menempel di benak penonton selamanya. Bukankah itu tujuannya?

Penggunaan Janur Kuning Kurang Tepat?

Akan tetapi, yang paling mengganggu dalam pertunjukan Oge Arthemus buat saya adalah penggunaan janur kuning.

Pertama, musik sama sekali tidak sinkron dengan janurnya. Mungkin tim kreatif hendak menyajikan unsur mistis dengan janur tersebut, tapi pertanyaannya apakah janur adalah simbol mistis? 

Endang Setyaningsih dalam penelitian berjudul “Tarub dan Perlengkapannya Sarat dengan Makna dan Filosofi” menyatakan bahwa Janur mempunyai makna “sejane ning Nur”, yang artinya “arah menggapai cahaya Ilahi”. 

Kuning sabda jadi yang dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening dan filosofinya suatu cita-cita mulia untuk menggapai cahaya Ilahi dengan hati yang bening dan untuk mendapatkan keberkahan.

Lalu ada pula penjelasan dari Ulfa Daryanti dalam penelitian “Analisis ‘Urf terhadap Tradisi Janur Kuning dalam Adat Pernikahan Jawa di Kabupaten Luwu Timur”. 

Ia mengatakan bahwa janur kuning menjadi sesuatu yang wajib ada karena itu adalah simbol kebahagiaan kedua mempelai. 

Janur merupakan rangkaian daun kelapa yang masih muda berwarna kuning keputihan. Dalam kebudayaan Jawa, janur memiliki makna yang berupa cita-cita mulia dan tinggi untuk mencapai cahaya Ilahi dengan hati yang jernih, khususnya untuk kedua calon mempelai. 

Berawal dari makna tersebut, janur merupakan elemen sangat penting bagi kebudayaan Jawa. Ragam bentuk Janur dirangkai sedemikian rupa sehingga menghasilkan identifikasi yang berbeda pula. 

Kesimpulannya bahwa janur adalah simbol kebahagiaan, kesucian, dan kesakralan. 

Lalu, apakah tepat Oge menggunakan janur sebagai “dekorasi mistis” yang membalut pertunjukannya? Dari penjelasan di atas sepertinya memang kurang tepat. 

Terlepas dari semua hal yang saya katakan tadi, saya tetap mengapresiasi pertunjukan Oge Arthemus serta seluruh tim di belakangnya. Tentu ada banyak pertimbangan teknis dan konsep sebelum memutuskan untuk menampilkan suatu pertunjukan terlebih di TV. 

Maju terus sulap Indonesia! (zf.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *