Pembajakan Karya Sulap, Kesalahan yang Telanjur Diamini

pembajakan karya sulap

Artikel ini adalah opini pribadi dari penulis berdasarkan riset dan fakta di lapangan.

Sulap.info – Salah satu masalah yang selalu menghantui industri kreatif adalah soal pembajakan karya. Mulai dari musik, film hingga produk teknologi sekalipun bisa dibajak. Bahkan sekelas Hollywood saja masih belum mampu mengatasi pembajakan film-filmnya.

Industri sulap sendiri tentu masih belum sebesar dunia perfilman atau musik. Tetapi untuk menghentikan pembajakan dalam sulap tidak semudah yang dibayangkan.

Produk Sulap Bajakan Merajalela

Tidak dapat dimungkiri, kita mungkin pernah membeli produk sulap berlabel ‘bajakan’, baik disengaja maupun tidak disengaja.

Bagi penjual, mereka hampir pasti sangat diuntungkan dengan menjual barang-barang bajakan. Harga yang jauh lebih murah dari produk aslinya membuat sebagian besar konsumen lebih memilih barang bajakan daripada membeli yang asli. 

Sementara dari sisi konsumen dan kreator, mereka dirugikan di waktu yang bersamaan. Konsumen kadang-kadang merasa tidak puas karena produk yang mereka beli tidak sama seperti yang terlihat di video cuplikan. Mulai dari materialnya yang jelek atau cara kerjanya yang mungkin tidak semulus aslinya.

Sementara si kreator, dan produsen tentunya, juga dirugikan secara materiil karena akhirnya pembeli lebih memilih produk bajakan yang lebih murah. Beberapa pembajak bahkan mampu membuat produknya sangat mirip dengan aslinya sehingga membuat orang bingung, “mana yang asli?”.

Khususnya di industri sulap, masalah ini juga sudah terjadi sejak lama. Bahkan ketika saya baru mulai belajar sulap, sekitar sepuluh tahun yang lalu, referensi pertama saya juga produk sulap yang diunduh secara ilegal dari internet. Sulit untuk tidak memilih jalan tersebut, karena harga DVD dan buku sulap saat itu sangat tidak terjangkau oleh saya.

Para kreator mungkin sudah lelah menghadapi masalah ini sehingga terkesan mengabaikannya. Padahal, mungkin mereka sedang melakukan sesuatu yang tidak banyak diketahui orang-orang, terutama para pembajak itu.

Tiongkok menjadi salah satu negara yang paling banyak memproduksi barang-barang sulap tiruan. Pada tahun 2017, Vanishing Inc. pernah berbicara dengan pemerintah Tiongkok mengenai pembajakan produk. Cofounder Vanishing Inc. Andi Gladwin, mengajukan permohonan agar perusahaannya mendapat perlindungan untuk menghentikan pembajakan. 

Pada akhirnya, Vanishing Inc. menjadi merek dagang resmi di Tiongkok. Jadi, apabila ada produsen setempat yang membajak produk Vanishing Inc. maka mereka dapat membawanya ke meja hijau. Itulah yang mereka lakukan ketika produk Rough Stick bajakan diproduksi secara massal dan dipasarkan ke berbagai negara.

Apa yang dilakukan Andi Gladwin itu sudah sangat tepat, sehingga jumlah Rough Stick bajakan yang beredar di dunia dapat berkurang. Walaupun, itu tidak bisa sepenuhnya hilang, karena para penjual masih berusaha memasarkan Rough Stick bajakan dengan tidak menggunakan logo Vanishing Inc. lagi.

Pembajakan Karya Sulap di Indonesia

Ada banyak contoh pembajakan karya sulap di Indonesia. Harus diakui, tidak banyak toko sulap lokal yang menjual barang-barang asli yang diimpor langsung dari produsennya. Mungkin ada, tetapi penjual produk bajakan jauh lebih banyak dan tersebar di seluruh pelosok negeri.

Masalahnya, pesulap sendiri terkadang tidak terlalu memikirkan apakah produk tersebut asli atau tidak. Yang penting tahu rahasia triknya dan bisa memainkannya untuk memukau penonton. 

Jadi, mungkinkah pembajakan karya sulap dihentikan, minimal di Indonesia? 

Hampir mustahil untuk menghentikan pembajakan karya sulap di Indonesia, karena mayoritas konsumennya lebih menginginkan produk-produk bajakan. Alasan utamanya karena harganya murah dan lebih mudah didapatkan daripada harus beli online dari luar negeri. Walaupun, dari segi kualitas pasti biasa-biasa saja.

Mirisnya, bukan hanya karya pesulap luar negeri saja yang dibajak, tetapi juga karya pesulap Indonesia. Tampaknya para pembuat produk bajakan ini sangat bernafsu sehingga karya ‘teman’ sendiri pun masih mau dipalsukan?

Dalam beberapa tahun terakhir, sebenarnya semakin banyak karya pesulap Indonesia yang mendunia lewat pasar-pasar sulap internasional. Paling tidak sekarang banyak toko sulap online luar negeri yang menyediakan fitur submit trik untuk menjual karya dari para pesulap di seluruh dunia. 

Sejumlah produsen lokal pun mulai aktif memasarkan karya sulap buatan pesulap lokal. Sebagai contoh, Rajasulap.com yang beberapa tahun belakangan lumayan aktif memproduksi karya orisinal dari pesulap Indonesia. Mereka memasarkannya sendiri dengan branding Rajasulap dan harga yang dipatok masih masuk akal.

Ada pula Tjiumagic.com, yang beberapa karyanya mendunia padahal diproduksi di Indonesia. Sebut saja “Cross” dari Agus Tjiu, yang pernah dimainkan oleh pesulap-pesulap terkenal luar negeri dalam program mereka. Soal harga, produk di Tjiumagic.com memang relatif mahal karena produk yang dijual berkualitas premium.

Menurut saya itu sangat positif dan bisa menjadi salah satu upaya mengurangi pembajakan karya sulap di Indonesia. Sebab, pesulap Indonesia yang karyanya sudah dijual di luar negeri pun pasti juga ingin merasakan karyanya dinikmati pesulap Indonesia lainnya.

Mencari Akar Masalah dan Solusi

Selain buku dan kartu remi, sejujurnya saya juga belum pernah membeli DVD atau alat sulap asli. Jujur, saya membeli produk bajakan dari toko-toko sulap online karena harganya memang murah. 

Entah kenapa produk bajakan sulap ini memang bisa membuat kecanduan. Tetapi itulah alasan mengapa saya menuliskan opini panjang lebar ini. Semakin banyak produk bajakan yang saya miliki, semakin takut saya membuat karya sendiri.

Saya pernah punya karya sendiri dan menawarkannya ke sebuah toko sulap untuk ‘titip jual’. Jawaban dari toko tersebut kemudian membuka pikiran saya tentang pembajakan karya sulap yang sepertinya sudah telanjur parah. Lazim dan dinikmati oleh banyak orang, tetapi sebenarnya itu tidak patut dilakukan. 

Kebetulan saat itu produk saya berbentuk buklet, hanya instruksi trik yang terdiri dari beberapa halaman. Mereka bilang, “Kamu boleh jual produk ini di toko kami, tapi dari mana kamu tahu kalau kami tidak akan memfotokopi buku kamu lalu menjualnya tanpa kamu tahu?”

Saat itu juga nyali saya sempat ciut untuk berkarya lagi. Mungkin itulah alasan mengapa harus ada produsen sulap yang menjadi perantara antara si pembuat karya dan konsumen. 

Lalu apa solusinya?

Saya tidak punya ide tentang bagaimana mengatasi pembajakan karya sulap karena pasti sangat rumit. Namun setidaknya mungkin bisa dikurangi sedikit demi sedikit sambil mengubah mindset penikmat sulap. 

Membuat rumah produksi sulap dan menyediakan wadah untuk menjual karya-karya pesulap Indonesia mungkin menjadi salah satu solusi. Contoh lainnya adalah seperti MagicFlix.com, yang membuat platform belajar sulap dengan mengadaptasi konsep Netflix dan layanan video streaming serupa.

Di satu sisi, pasti banyak orang tidak suka jika trik-trik sulap dijual mahal. Itulah yang menurut saya menjadi akar dari maraknya pembajakan di berbagai industri termasuk sulap. Tetapi, khususnya di sulap, menurut saya memang harus dijual mahal. 

Jadi, setidaknya hanya orang yang serius mau belajar sulap yang bersedia berkorban mengeluarkan uang untuk membelinya. Dengan begitu, mereka pasti juga enggan membagikan rahasia itu dengan mudahnya kepada orang lain.

Mengurangi Pembajakan Sulap

Jika tidak bisa menghentikan pembajakan karya sulap, setidaknya kita harus bisa membantu memberantasnya. Ada lima hal yang perlu dilakukan:

  1. Tidak membagikan tautan situs web bajakan di manapun. 
  2. Jangan membeli produk bajakan dari manapun.
  3. Berhenti berkontribusi mengedarkan produk bajakan dengan cara apapun.
  4. Ajak teman untuk melakukan apa yang kita lakukan.
  5. Laporkan pihak produsen jika menemukan pembajakan produk.

Saya tahu pasti banyak orang yang tidak setuju dan tidak peduli sama sekali dengan opini ini. Ada yang masa bodoh karena pembajakan sudah menjadi hal yang lazim, ada pula yang mungkin menganggap pembajakan sebagai ‘karya’ dan ‘ladang mengais rezeki’ bagi beberapa orang. 

Terserah. Sekali lagi, terserah. Ini hanyalah opini pribadi. 

Saya sendiri pernah dan sesekali masih menjadi konsumen produk bajakan. Tetapi, sekarang ini saya sedang berusaha untuk tidak lagi bersinggungan dengan produk sulap bajakan. Dengan begitu, saya bisa lebih tenang untuk membuat karya sulap selanjutnya.

Terakhir, harapan saya adalah ke depannya agar semakin banyak rumah produsen sulap lokal yang bersedia menampung dan menjual karya-karya pesulap Indonesia.

2 Comments on “Pembajakan Karya Sulap, Kesalahan yang Telanjur Diamini”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *