Wawancara Jiban, Antara Idealisme dan Kebutuhan TV

Sulap.info – Adrian Jibs Martinus alias Jiban adalah salah satu pesulap senior di Indonesia yang sudah kenyang pengalaman. Dia memang tidak terlalu sering muncul di TV, tetapi pemenang ketiga The Next Mentalist adalah seorang konsultan sulap terpercaya untuk banyak pesulap profesional dan acara sulap di TV. Berhubung Info Sulap penasaran dengan bagaimana ‘rahasia’ sebuah acara sulap di TV, kami pun melakukan wawancara online dengan Jiban untuk menanyakan tentang itu. Berikut ini hasil wawancaranya.

Bagaimana cara menyelaraskan antara idealisme berkesenian sulap dengan selera TV?

Pada dasarnya, kalau kita melakukan magic kita dengan benar, maka tidak ada apapun lagi  yang perlu diselaraskan lagi dengan TV. Kalau pihak TV masih minta perubahan sana sini, berarti sulap kita belum benar. Pernah ditekankan oleh Wayne Dobson di ‘50 Shades of Gold’. Kita harus menyampaikan ke pihak TV bahwa, “Kalian lakukanlah kerja (broadcast) kalian yang terbaik. Urusan magic, serahkan pada saya.” 

Apakah sulap di TV sepenuhnya mengejar rating, hingga pesulap semacam wayang para produser?

Sayangnya ada pesulap yang rela dibegitukan atau malah melacurkan diri menawarkan diri jadi wayang. Tapi ada juga yang masih menjaga kualitasnya mati-matian, kok. Ada istilah rating adalah Tuhannya TV, maka (hampir) semua keputusan mereka (TV) berdasarkan hal itu. 

Tetapi secara holistik, siaran TV sangatlah organik melampaui angka-angka belaka. HBO bisa besar karena mereka pada awalnya membuat seri sebaik mungkin saja, tanpa meletakkan rating sebagai GBHN mereka. Dan bukan berarti rating adalah bersifat saklek, jelek dan merusak seni. Analisa rating jika diolah dengan benar, sangatlah baik dan bernutrisi untuk perkembangan seni magic. Rating is not the enemy, it’s our ally.

Sebagai konsultan pesulap, apakah Anda menghalalkan ‘cara haram’ (combe, dll) dimainkan di acara TV?

Baca Juga  Viral Aksi Bintang K-Pop Coba Main Sulap

Pertanyaan jebakan nih, hahaha. Apa sih arti haram jaman now? Orang-orang udah makan, minum dan berbuat, berpikir dan berkata haram setiap hari. Tinggal kembali seberapa besar kamu menghormati seni ini saja. 

Tapi intinya seperti ini, stooge (combe -red) dalam dunia magic di TV seharusnya digunakan demi kepentingan kelancaran dan kelangsungan permainan saja, dan HANYA itu saja. Artinya apabila permainan ini dilakukan tanpa stooge pun, akan harus tetap 1:1 persis sama dengan menggunakan stooge. Kita hanya  meminimalisir tingkat kegagalan permainan di TV, baik live atau taping (rekaman). 

Pertanggungjawaban secara metode magic, norma magic dan efek magic harus tetap dipegang teguh. Tapi jika ‘ilmu hitam’ ini digunakan untuk membesarkan efek, atau bahkan menciptakan efek killer yang tidak bisa dicapai oleh metode magic manapun, maka bolehlah dikategorikan haram. Deskripsi bagus banget soal ini ada di buku “Light, Camera, Magic”.

Bagaimana pendapat Anda mengenai penampilan beberapa pesulap Indonesia di TV yang berani ‘copy-paste’ dari penampilan pesulap luar negeri, apalagi itu adalah rutin orisinal dari pesulap bersangkutan?

Ada yang namanya beli alat atau buku original, yang secara de jure, sebenarnya sudah mendapat restu dari si empunya trik untuk dimainkan. Tapi saya tahu arah pertanyaannya bukan itu. Secara norma dan hukum (kalau didaftarkan), tanpa meminta izin si empunya rutin, sudah pasti salah, dan tidak ada tapinya. Salah! Kenapa masih pada melakukannya?

Coba kalau pertanyaannya begini, “Kenapa band café cuma bawain lagu-lagu orang? Kok enggak bawain lagu sendiri? Dan apakah hasilnya sama dengan yang dimainkan si penyanyi aslinya?” Celakanya kalau mereka melakukan itu-itu terus sampai tua dan (anehnya) gak beken-beken. Harusnya proses ‘copas’ ini adalah jalan menuju jati diri sebenarnya, sampai kita menemukan permainan kita sendiri. 

Apakah acara sulap di TV menggambarkan arah perkembangan sulap di Indonesia?

Baca Juga  ‘Rahasia’ Pesulap Julius Dein Menjadi Sensasi di Media Sosial

Secara general, ya. Lihatlah apa yang sudah The Master, The Next dan The Great Magician ciptakan. Sosok Joe Sandy, sosok Limbad, sosok Riana, dan sosok 12 finalis TGM. Magician di TV berhasil menyelipkan sosok seniman (ART-ist) menjadi celebrity, sehingga masyarakat awam mulai kenal magician dari tokohnya, bukan seninya. 

Dulu, sebelum Deddy Corbuzier membengkokan sendok, orang taunya, “Ada magician di acara itu, nonton, yuk.” Sekarang, “Ada Demian di acara itu, nonton, yuk.” 

Terlepas dari magic para selebriti itu benar atau tidak, tapi mereka terekspos sangat luas melebihi yang para magician offair lakukan sepanjang karier mereka. 

Zaman sekarang mungkin masih ada platform media sosial dan YouTube yang menjangkau 2 miliar penonton. Let’s do the math:

89 juta penonton TV (berdasarkan katadata.co.id, 2019), dibagi 15 stasiun nasional = 6 juta penonton per stasiun, per hari. Dengan asumsi penontonnya hanya di Indonesia saja. 

5 milyar video youtube (2018) dibagi 2 milyar pengguna youtube (2018) = 2,5 view per video. Per hari. Dengan asumsi seluruh dunia menonton. 

Dalam waktu dekat, perbandingan ini akan berubah. Sementara, kalau kita bilang magic adalah seni untuk dinikmati orang awam, jawabannya ya, TV masih jadi tolak ukurnya. Suka atau tidak, sesat atau tidak, magic di TV, jawabannya masih ya. 

Apa harapan Anda untuk acara sulap TV di Indonesia?

Pengen banget punya annual (tahunan) show yang dinanti orang-orang sejagat, macam HUT-nya NET. TV. yang bisa dilirik dunia macam Master of Illusions.

One Comment on “Wawancara Jiban, Antara Idealisme dan Kebutuhan TV”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *